ErT, Bara, GaBe atau AW?
Hari ini, warga Surabaya punya hajat akbar, yakni sebuah pesta demokrasi yang benar-benar hakiki: Memilih wali kotanya secara langsung. Ini pertama kali dilakukan, dalam sejarah kota Surabaya.
Siapa yang akan terpilih nanti? Wallohu a’lam. Ini adalah otoritas Tuhan. Manusia hanya bisa mensurvei, menduga-duga, meramal, atau mengotak-atik gatuk dengan ramuan sedikit klenik, mempolling dengan SMS, dan sebagainya.
Setidaknya, untuk hasil pilwali nanti berkisar pada dua skenario: Pertama, yang menang sudah bisa diduga sebelumnya (misalnya dari hasil beberapa survei). Kedua, yang menang tidak bisa diduga, alias kejutan.
Pada hari ini, skenario mana yang terjadi? Yang sudah bisa diduga sebelumnya, atau yang tak terduga? Wallohu a’lam.
Yang jelas, perhitungan politik itu bukan perhitungan matematika.
Saya termasuk yang yakin, bahwa warga di kota ini sebagian besar termasuk "komunitas besar yang cair". Dalam memilih pemimpinnya, tidak akan terlalu terpengaruh bendera partai politik yang menjadi back ground setiap pasangan calon.
Dalam memilih pemimpinnya, warga di kota ini sebagian besar juga tidak terlalu mudah terpengaruh sosok atau figur terkenal yang menjadi juru kampanye salah satu pasangan calon.
Artinya, ketika memilih pasangan calon yang akan dicoblosnya di TPS nanti, sebagian besar akan berangkat dari murni pilihannya sendiri. Mungkin ada yang berpikir gampang dan sesaat. Misalnya, begitu menerima kartu, lantas melihat foto-foto para calon, kemudian dipilih atau dicoblos yang paling ganteng wajahnya. Setelah ketemu, dicoblos lah calon yang dianggap paling ganteng itu.
Atau, ada juga yang mungkin pertimbangannya agak njlimet. Misalnya, sebelum mencoblos, dilihat intelektualitas masing-masing calon, integritasnya terhadap pembangunan di kota ini, atau track recordnya.
Semua hal yang menjadi pertimbangan di atas, baik yang paling sederhana maupun agak njlimet, sah-sah saja untuk dijadikan acuan mencoblos. Yang penting, datang ke TPS, mencoblos, sehingga menggunakan hak suaranya dengan baik.
Bagi calon yang menang, Anda boleh bangga. Sebab, legitimasi Anda bukan hanya dari para anggota dewan. Tapi, legitimasi Anda berasal dari Rakyat Surabaya.
Tapi, jangan kelewat bangga. Sebab, Surabaya telah menjadi kota yang termasuk "terbelakang" dibandingkan kota-kota besar di negara lain (terutama pembangunan infrastrukturnya), sehingga sulit untuk dibanggakan. Karena itu, tugas Anda yang menang, sangatlah berat.
Bagi calon yang kalah, harus legowo. Ingat, Anda sudah meneken
kesepakatan Siap Menang dan Siap Kalah, disaksikan anggota Komisi Pemilihan Umum Surabaya, dan warga di kota ini.
Meski Anda nanti kalah, setidaknya Anda telah menjadi selebritis di kota ini selama berbulan-bulan. Kedatangan Anda di setiap acara sempat dielu-elukan warga. Nama Anda juga sempat disebut-sebut di radio, koran, majalah, dan televisi.
Foto dan poster Anda terpampang di mana-mana, di jalan-jalan protokol, hingga jalan-jalan "tikus". Mulai yang kelas tempel (ditempel di tiang listrik dan pohon), hingga yang kelas reklame (dipasang di reklame menjulang tinggi). Tak semua warga Surabaya berkesempatan menjadi selebritis seperti Anda.
Akhirnya, marilah kita tunggu bersama-sama, siapa pasangan wali kota-wakil wali kota yang dipilih rakyat Surabaya nanti. Apakah ErT (Erlangga Satriagung-A.H Thony), Bara (Bambang D.H-Arif Afandi), GaBe (Gatot Sudjito-Benyamin Hilly) atau AW (Alisjahbana-Wahyudin Husein)? Wallohu a’lam bissowab.
Siapa yang akan terpilih nanti? Wallohu a’lam. Ini adalah otoritas Tuhan. Manusia hanya bisa mensurvei, menduga-duga, meramal, atau mengotak-atik gatuk dengan ramuan sedikit klenik, mempolling dengan SMS, dan sebagainya.
Setidaknya, untuk hasil pilwali nanti berkisar pada dua skenario: Pertama, yang menang sudah bisa diduga sebelumnya (misalnya dari hasil beberapa survei). Kedua, yang menang tidak bisa diduga, alias kejutan.
Pada hari ini, skenario mana yang terjadi? Yang sudah bisa diduga sebelumnya, atau yang tak terduga? Wallohu a’lam.
Yang jelas, perhitungan politik itu bukan perhitungan matematika.
Saya termasuk yang yakin, bahwa warga di kota ini sebagian besar termasuk "komunitas besar yang cair". Dalam memilih pemimpinnya, tidak akan terlalu terpengaruh bendera partai politik yang menjadi back ground setiap pasangan calon.
Dalam memilih pemimpinnya, warga di kota ini sebagian besar juga tidak terlalu mudah terpengaruh sosok atau figur terkenal yang menjadi juru kampanye salah satu pasangan calon.
Artinya, ketika memilih pasangan calon yang akan dicoblosnya di TPS nanti, sebagian besar akan berangkat dari murni pilihannya sendiri. Mungkin ada yang berpikir gampang dan sesaat. Misalnya, begitu menerima kartu, lantas melihat foto-foto para calon, kemudian dipilih atau dicoblos yang paling ganteng wajahnya. Setelah ketemu, dicoblos lah calon yang dianggap paling ganteng itu.
Atau, ada juga yang mungkin pertimbangannya agak njlimet. Misalnya, sebelum mencoblos, dilihat intelektualitas masing-masing calon, integritasnya terhadap pembangunan di kota ini, atau track recordnya.
Semua hal yang menjadi pertimbangan di atas, baik yang paling sederhana maupun agak njlimet, sah-sah saja untuk dijadikan acuan mencoblos. Yang penting, datang ke TPS, mencoblos, sehingga menggunakan hak suaranya dengan baik.
Bagi calon yang menang, Anda boleh bangga. Sebab, legitimasi Anda bukan hanya dari para anggota dewan. Tapi, legitimasi Anda berasal dari Rakyat Surabaya.
Tapi, jangan kelewat bangga. Sebab, Surabaya telah menjadi kota yang termasuk "terbelakang" dibandingkan kota-kota besar di negara lain (terutama pembangunan infrastrukturnya), sehingga sulit untuk dibanggakan. Karena itu, tugas Anda yang menang, sangatlah berat.
Bagi calon yang kalah, harus legowo. Ingat, Anda sudah meneken
kesepakatan Siap Menang dan Siap Kalah, disaksikan anggota Komisi Pemilihan Umum Surabaya, dan warga di kota ini.
Meski Anda nanti kalah, setidaknya Anda telah menjadi selebritis di kota ini selama berbulan-bulan. Kedatangan Anda di setiap acara sempat dielu-elukan warga. Nama Anda juga sempat disebut-sebut di radio, koran, majalah, dan televisi.
Foto dan poster Anda terpampang di mana-mana, di jalan-jalan protokol, hingga jalan-jalan "tikus". Mulai yang kelas tempel (ditempel di tiang listrik dan pohon), hingga yang kelas reklame (dipasang di reklame menjulang tinggi). Tak semua warga Surabaya berkesempatan menjadi selebritis seperti Anda.
Akhirnya, marilah kita tunggu bersama-sama, siapa pasangan wali kota-wakil wali kota yang dipilih rakyat Surabaya nanti. Apakah ErT (Erlangga Satriagung-A.H Thony), Bara (Bambang D.H-Arif Afandi), GaBe (Gatot Sudjito-Benyamin Hilly) atau AW (Alisjahbana-Wahyudin Husein)? Wallohu a’lam bissowab.





2 Comments:
weh
selamet berdemokrasi deh
semoga gak rusuh :D
ndre, skr aku ngeblog di fster.
huhahahhaa....
Post a Comment
<< Home