menembus atap


Apa yang belakangan ini ngetrend di Surabaya? Ramadhan? Bukan! Kedatangan artis ibu kota? Juga bukan. Bila Anda berjalan-jalan di beberapa ruas jalan arteri di kota buaya ini, Anda akan disuguhi pemandangan yang menyakitkan mata.
Di sepanjang Jl. Ahmad Yani, misalnya, terdapat sedikitnya lima reklame raksasa yang menembus atap rumah. Salah satunya berada di sebuah toko dekat bundaran Dolog. Di sana, sebuah tiang reklame berdiameter sekitar 70 sentimeter tampak nongkrong di dalam toko. Tiang reklame setinggi sekitar 30 meter itu menembus atap toko yang tingginya hanya sekitar tiga meter. Posisi tiang itu berdempetan dengan meja dan kursi pemilik rumah. Sungguh pemandangan yang tidak biasa. Bisa dibayangkan, apa jadinya jika reklame yang beratnya mungkin mencapai satu ton itu tiba-tiba ambruk, dan menghantam bangunan toko tersebut.
Pemandangan tak jauh berbeda juga tampak di kawasan tengah kota. Misalnya, di Jl. Urip Sumohardjo, Basuki Rachmat, Tunjungan, hingga Kapasan. Selain menembus atap, beberapa reklame juga didirikan secara ngawur di atap bangunan dan dekat rel KA. Para biro reklame sepertinya tak ingin menyisakan sejengkal tanah pun di kota ini.






